Agama dan Produktifitas

Agama dan Produktifitas
Produktifitas merupakan salah satu isu terpenting di negara-negara berkembang. Diantara sebabnya adalah rendahnya produktifitas masyarakat di negara-negara berkembang. Sebagaimana diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat dipengaruhi oleh produktifitas masyarakatnya. Dengan demikian, apabila kita menginginkan kemajuan pada diri, masyarakat, bangsa dan negara kita, maka kita harus memacu atau mendorong produktifitas diri kita masing-masing.  

Agama Islam merupakan agama yang mengatur semua sisi kehidupan umat manusia, Islam tidak hanya mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur seluruh sisi kehidupan manusia, termasuk masalah produktifitas. Kenyataannya mungkin tidak semua muslim memahami akan hal ini, karena tidak setiap orang Islam telah mempelajari ajaran Islam secara total. Jadi kesalahannya bukan terletak pada ajaran agama Islam, melainkan pada orang atau oknumnya.

Dalam mendorong faktor produktifitas masyarakat ini, ada beberapa ajaran agama Islam yang harus kita ketahui bersama, dua diantaranya adalah :

Larangan meminta-minta
Islam mewajibkan kepada umatnya untuk berikhtiar menjemput rezeki yang telah disiapkan oleh TuhanSemua mahluk diciptakan oleh Tuhan sekaligus dengan jatah rezekinya masing-masing. Kemalasan manusia dan atau keserakahan orang lain itulah yang menyebabkan sebagian manusia tidak mendapatkan jatah rezekinya.  Banyak cara yang halal untuk mendapatkan rezeki seperti bekerja pada pemerintah, bekerja pada sektor swasta, mengajarkan sesuatu kepada orang lain, berinvestasi, memproduksi barang/jasa, bertani dan juga berdagang. Manusia tidak perlu mencari jalan yang haram dalam menjemput rezeki seperti menipu, merampok, korupsi, mencuri dan mengemis atau meminta-minta kepada orang lain.

Terkait larangan meminta-minta kepada orang lain, Rasulullah saw bersabda :



Artinya: Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda : Siapapun yang meminta-minta harta orang lain  untuk memperkaya diri, maka sebenarnya dia hanyalah meminta bara api dari neraka, silahkan meminimalisirnya atau bahkan memperbanyaknya.  (HR Muslim)

Pada hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari & Muslim (Sahih Bukhari 2/123 ;  Sahih Muslim 2/720) Rasulullah SAW  juga menjelaskan bahwa seseorang yang meminta-minta kepada orang lain ketika hidup di dunia maka kelak di akhirat nanti, orang itu akan menghadap Allah SWT dalam keadaan hina. Beliau juga menjelaskan (Sahih Bukhari 2/125) bahwa seseorang yang mengumpulkan kayu bakar bekas ranting dan pohon yang sudah tidak terpakai (pemulung pada saat ini), itu lebih baik daripada pengemis, meskipun boleh jadi penghasilan pengemis lebih besar daripada pemulung.


Ihyaul Mawat
Istilah Ihyaul mawat (menghidupkan lahan tidur) ini kurang popular di masyarakat Indonesia, karena jarang disampaikan oleh para ustadz dalam kajian dan ceramah. Dalam agama Islam, bumi air dan kekayaaan alam yang terkandung di dalamnya, termasuk tanah atau lahan pada umumnya diciptakan oleh Allah swt untuk kemaslahatan manusia, karena itu membiarkan lahan tanpa dimanfaatkan sama sekali termasuk hal yang mubadzir.

Dengan demikian, setiap muslim yang berinvestasi dengan membeli lahan atau tanah dan wajib berbuat sesuatu untuk memanfaatkan lahannya, baik dengan menanam pohon atau dengan membangun bangunan di atasnya. Andai semua lahan tidur yang ada di negeri kita ini dimanfaatkan untuk pertanian, Insyaallah Indonesia akan menjadi negara swasembada pangan, tidak perlu mengimport makanan pokok dari negara lain, rakyat akan kecukupan pangan dan tidak ada warga yang kelaparan, serta devisa negarapun meningkat.  

Terkait dengan hal ini ada hadits rasul yang perlu kita ketahui :



Artinya : Dari Jabir bin Abdillah r.a, bahwa Rasulullah saw bersabda : Siapapun yang menghidupkan lahan yang mati maka baginya pahala dalam hal itu, dan apapun (tanaman yang) dimakan oleh mahluk hidup lain, maka hal itu menjadi sedekah baginya. HR Ibnu Hibban   (Sahih Ibnu Hibban 11/613).

Inilah dua diantara ajaran Islam yang mendorong produktifitas. Dalam artikel ini saya tidak dapat menjelaskan semuanya karena keterbatasan ruang dan waktu. Sebagai Mitra K-Link, jika Anda menginginkan kesuksesan, maka Anda harus meningkatkan produktifitas diri. Produktif dalam memperkenalkan K-LINK kepada orang lain, memperkenalkan produk-produk K-LINK, menjual produk-produk K-LINK serta produktif dalam memberikan testimoni atas keunggulan produk-produk K-LINK kepada orang-orang terdekat di sekitar Anda. Salam Sukses dan produktif.